Lahirnya Sejarah Profesi Terapis Wicara di Negeri Lain

MENELUSURI POTONGAN SEJARAH LAHIRNYA
(PROFESI) SPEECH LANGUAGE PATHOLOGY 
DI NEGERI LAIN

Pipit Puspitasari 
Alumni Tahun Ajaran 2000/2003
Pada 10 Mei 2020

Mengenal sejarah dapat memberikan informasi reflektif mengenai kelahiran (profesi) kita sebagai bagian dari dunia yang terus berkembang. Seperti ungkapan Bung Karno: JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Pembacaan saya sejak sekitar 10 tahun yang lalu tentang sejarah (lahirnya) profesi ini di dunia, telah saya lupakan. Sehingga kali ini saya rangkum dalam bentuk tulisan singkat ini, untuk media mengingat yang mungkin bisa saya maknai ulang tentang profesi saya: terapis wicara. Sehingga saya bisa merefleksikan sejarah profesi di negeri sendiri, siapa duga bisa untuk memahami ilmu pengetahuan itu sendiri secara keseluruhan. Omni science.

Di Indonesia tenaga terapi wicara disebut TERAPIS WICARA dengan standar pendidikan akademi setingkat D3 dan ada pula yang setingkat D4. Penyebutan tenaga kesehatan (klinisian) “terapis wicara” di Amerika adalah speech-language pathologist (SLP’s), yang ternyata sebelumnya terdapat beberapa penggunaan istilah terhadap profesi ini. Misalnya penyebutan speech correctionist, sebagai klinisian yang berkonsentrasi di bidang penanganan terhadap individu yang mengalami gangguan dalam berbicara (speech disorders).

Namun disini saya menceritakan hasil bacaan saya terhadap tulisan-tulisan Judith Felson Duchan, seorang speech language pathologist (SLP’s) Amerika. Yuk!

Sebagian besar pembahasan sejarah asal usul profesi SLP’s yang ditulis di Amerika fokus pada masalah organisasi. Mereka menempatkan asal-usul profesi pada sekitar tahun 1925, saat mereka yang bekerja dibidang speech disorder dan speech correction, mendirikan organisasi mereka sendiri. Meskipun sejarah praktik abad ke-20 profesi ini lebih luas dari itu, termasuk ide-ide yang mendasari praktik dan juga sains di bidang speech disorders.

Speech-language pathology di Amerika Serikat berakar pada elocution yang berasal dari abad ke-18 di Inggris. Penekanan pada elocution berlanjut tetapi dengan cepat bergeser dan berfokus pada gangguan komunikasi (communication disorders) yang diawali dengan terbitnya buku Samuel Potter, MD, pada tahun 1882 yang menjelaskan beberapa tipe gangguan bahasa dan wicara. Dalam perkembangannya di lapangan, terus menjadi fokus yang semakin populer di Amerika, sampai dengan didirikannya American Academy of Speech Correction pada tahun 1926.

Penelusuran literatur pada esai-esai Duchan sampai dengan ke kebudayaan-kebudayaan awal di dunia, yang berfokus pada empat kebudayaan yaitu: Mesopotamia, Mesir, Yunani, dan Roma. Bahkan untuk Yunani dan Roma ditelusuri sampai dengan era kuno.

Esai-esai tersebut membahas mengenai sejarah yang berkaitan dengan pandangan para pendahulu mengenai kesehatan secara umum dan kesehatan yang berkaitan dengan apa yang saat ini kita kenal sebagai gangguan bahasa wicara. Termasuk bagaimana penanganannya terhadap kesehatan (secara umum), bagaimana awal mula pendidikan diadakan, dan bagaimana para pendahulu melihat dan memperlakukan atau menangani orang-orang yang mengalami disabilitas.

Menarik untuk ditelusuri pada masing-masing kebudayaan memiliki perbedaan mengenai bagaimana para pendahulu memandang kondisi (khususnya) disabilitas, dapat memberikan perspektif sosial/kebudayaan yang beragam. Seperti juga sebagian yang mungkin kita ketahui melalui penggambaran pada film-film, bagaimana seorang yang sakit dilihat sebagai seseorang yang mengalami gangguan akibat roh jahat atau dewa yang marah. Sebagian dari uraian Duchan tersebut memang ada yang menggambarkan demikian, tetapi juga ada yang tidak demikian.

Berikut adalah beberapa contoh yang dapat menggambarkan bahwa kondisi seperti yang kita kenal sekarang sebagai gangguan komunikasi telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam esai Duchan di bagian Mesopotamia terdapat penggambaran kondisi yang saat ini kita kenal sebagai gagap, yang dialami oleh Yang Mulia Raja Agung Mursilis:

“I rode to Til Kunnu […] and suddenly a thunderstorm broke out, whereupon the Storm God caused terrible thunder and I became afraid and the speech faded away in my mouth and the words rose up with some difficulty” (Houwink ten Cate, 1966, p. 34 cited in Prins and Bastiannse, 2006, p. 765).

Sedangkan pada kebudayaan Roma, terdapat catatan yang menggambarkan Kaisar Roma ke-empat, Claudius yang mengalami CP; Quintus Pedius, seorang pelukis yang mengalami gangguan pendengaran; Balbus Blaesius, seorang gagap yang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang freak-show performer.

Bagi saya pribadi membacanya cukup menyenangkan karena meluaskan imaji saya tentang kisah masa lalu yang terkait dengan asal usul profesi saya. Hanya, saya tidak bisa melanjutkan ceritanya di sini untuk saat ini, karena suatu alasan tertentu. Ok.

Nah, sementara Saya tutup tulisan ini dengan menyampaikan, bahwa Duchan membagi sejarah SLP abad ke-20 menjadi empat periode, sebagai berikut:

  • Formative Years, (tepat sebelum) Tahun 1900 – 1945. Dimulai tepat sebelum tahun 1900 ketika buku-buku dan artikel-artikel pertama tentang communication disorders diterbitkan di Amerika.
  • The Processing Period, Tahun 1945 – 1965. Pada masa Perang Dunia II (PD II) banyak prajurit yang kembali dari dari peperangan dengan cedera otak yang mengakibatkan peningkatan dramatis jumlah orang yang mengalami afasia. Selama tahun 1940 dan 1950-an, para peneliti dan praktisi di bidang speech-language pathology mulai fokus pada “mentalism” atau kemampuan pemrosesan otak. Selama periode ini pula, studi tentang otak, kemajuan teknologi, dan perkembangan prosedur tes standar menghasilkan esesmen dan teknik penanganan bahasa reseptif dan ekspresif yang lebih berkembang. Dan pada masa ini pula, bidang kajian speech pathology menjadi speech-language pathology (SLP).
  • The Linguistic Era, Tahun 1965 – 1975. Masa dimana ditanganinya gangguan bahasa (language disorders) menjadi terpisah dari gangguan wicara (speech disorders) dan bersifat linguistik.
  • The Pragmatic Revolution, Tahun 1975 – 2000. Masa dimana mereka memandang dan membingkai ulang bahasa dalam tatanan komunikatif, linguistik, kultural, dan konteks dalam kehidupan sehari-hari.

 

RUJUKAN BACAAN

  1. Judith Felson Duchan. (2011). Diakses pada 10 Mei 2020. Bisa ditemukan pada laman http://www.acsu.buffalo.edu/~duchan/history.html
  2. Judith Felson Duchan. (2011). Our Formative Years 1900 – 1945. Diakses pada 13 Mei 2020. http://www.acsu.buffalo.edu/~duchan/1900-1945.html
  3. Judith Felson Duchan. (2003). What Do You Know about Your Profession’s History? And Why Is It Important? Volume 7, Issue 23, p 4-29, December 2003. Diakses melalui https://leader.pubs.asha.org/doi/10.1044/leader.ftr.07232002.4 pada 10 Mei 2020.  https://doi.org/10.1044/leader.FTR.07232002.4
  4. Laman Perpustakaan University of North Carolina. A Brief History of SPEECH-LANGUAGE PATHOLOGY. Diakses pada 10 Mei 2020. Bisa ditemukan pada laman https://hsl.lib.unc.edu/speechandhearing/professionshistory

Related Post