Fase Intervensi Gangguan Bahasa

Fase Intervensi Gangguan Bahasa

Oleh: Rexsy Taruna

Assalamualaikum wr wb
Salam sejahtera untuk pembaca artikel

Alhamdulillah, pada kesempatan ini saya akan memperkenalkan sebuah tulisan yang diberi judul “fase intervensi gangguan bahasa”, khususnya pada anak. Fase atau tahapan intervensi yang dimaksud di dalam tulisan ini adalah fase transferensi (perpindahan) kemampuan berbahasa, dari kemampuan dasar hingga kemampuan yang lebih kompleks atau fungsional.

Fase Transferensi Kemampuan Bahasa
Menurut Pennington (2009), bahasa dibagi menjadi dua kategori, yakni struktural dan fungsional (skema 1). Saat anak belajar bahasa, kemampuan yang harus dimiliki anak adalah kemampuan struktural bahasa, dan selanjutnya diikuti dengan kemampuan fungsional bahasa. Kemampuan struktural bahasa dibagi menjadi tiga; yaitu semantik, sintaksis, dan fonologi.

Pada tahap semantik, anak belajar untuk memahami ribuan kata beserta fungsinya (misalnya, kosa kata). Pada tahap sintaksis anak belajar bagaimana caranya memilih dan menyusun kumpulan kata yang ada pada semantik menjadi tata bahasa yang baik dan benar.

Pada tahap fonologi, anak akan belajar bagaimana caranya merubah tata bahasa menjadi satuan dan deretan bunyi yang memiliki makna. Untuk dapat berkomunikasi secara efektif, anak-anak tidak cukup hanya belajar tentang struktural bahasa, anak-anak juga harus belajar bagaimana caranya memilih dan menggunakan struktural bahasa yang tepat di dalam lingkungan sosial yang tepat, kemampuan ini dikenal dengan kemampuan pragmatik (Pennington, 2009).

Tidak hanya itu, selain memilih dan menggunakan struktural bahasa yang tepat, anak-anak juga harus belajar bagaimana caranya menggunakan gestur, kontak mata, dan intonasi suara di dalam komunikasi sosial. Masih di dalam konteks yang sama, selain belajar pragmatik, anak-anak juga harus belajar mengenai urutan sebuah cerita, kemampuan ini dikenal dengan discourse specific.

Kemampuan ini memungkinkan anak untuk memahami lebih urut mengenai urutan di dalam sebuah cerita, misalnya, siapa yang ada di dalam cerita, dimana sebuah cerita berlangsung, kejadian apa yang ada di dalam cerita, bagaimana perasaan orang yang berada di dalam cerita, apa yang harus dilakukan terkait dengan kejadian yang di alami, dan masih banyak lagi.

fase_transferensi_bahasa
Beberapa pedoman kurikulum intervensi bahasa mungkin menjadi rekomendasi saya dalam penanganan struktur bahasa, misalnya kurikulum bahasa karya Catherine Maurice (1996) atau Ron Leaf & John McEachin (1999). Sedangkan pedoman kurikulum dalam intervensi kemampuan discourse specific dapat menggunakan Story Grammer Marker.

Referensi

  1. Catherine Maurice (1996). Behavioral intervention for young children with autism. A manual for parents and professional. US: PRO-ED
  2. Pennington (2009). Diagnosing learning disorders: a neuropsychological framework. USA: The Guilford Press
  3. Ron Leaf & John McEachin (1999). A Work in Progress: Behavior management strategies and curriculum for intensive behavioral treatment of autism. USA: Drl Books Inc

Related Post