Digital Learning System atau biasa disingkat DLS

Digital Learning System atau biasa disingkat DLS tentu saja bukan barang baru pada era globalisasi ini, dimana gadget dan internet sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Baik hardware (gadget) maupun software (aplikasi) keduanya sudah sangat lazim digunakan pada kegiatan belajar mengajar sehari hari. Laptop misalnya, sudah menjadi kebutuhan pokok mahasiswa yang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar di kampus, apapun jurusannya. Skill dasar Ms. Word, Powerpoint dan Excel-pun sudah menjadi prasyarat agar seorang mahasiswa mampu mengikuti tugas dan ujian yang diberikan oleh dosen di kampus.
Masifnya penggunaan perangkat dan aplikasi Digital Learning dewasa ini tak lepas dari berbagai manfaat yang ditawarkan seperti efisiensi, database ilmu yang lebih luas, kegiatan belajar yang lebih interaktif serta masih banyak lagi.

DLS pun kini dapat ditemui dalam metode pengajaran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) salah satunya terapi wicara. Perangkat seperti iPad atau handphone, serta aplikasi belajar bahasa untuk anak menjadi andalan dalam kegiatan DLS pada terapi wicara. Hal ini tentu baik, karena pada umumnya DLS menawarkan interaksi belajar yang lebih menarik dengan menyertakan audio dan visual yang lebih nyata sehingga dapat lebih menarik minat anak dalam kegiatan terapi wicara. Penggunaan media belajar konvensional pun dapat dikombinasikan dengan aplikasi yang tersedia. Tentunya, kegiatan DLS harus dibarengi dengan edukasi kepada orang tua, karena perangkat elektronik pada penggunaannya dapat membatasi gerak motorik yang juga dibutuhkan pada kegiatan belajar serta perkembangan ABK.

Pada kesempatan kali ini saya mewawancarai Fajar Azis Rahman, seorang terapis wicara yang sedang mengembangkan aplikasi mobile untuk kebutuhan DLS terapi wicara. Aplikasi buatannya dinamakan Hallo Speech, yang telah tersedia pada Google Appstore sejak 26 April 2020. Hallo Speech memiliki fitur untuk mengemulasi fungsi kartu perbendaharaan kosakata atau yang biasa disebut kartu fonem dengan berbagai kategori seperti benda, anggota tubuh, preposisi, waktu dan masih banyak lagi. Sebagai catatan, aplikasi ini adalah aplikasi DLS pertama buatan terapis wicara Indonesia. Penulis mewawancarai Fajar via telefon dan berikut adalah hasil wawancara yang kami lakukan:

P: Halo Fajar! bagaimana awalnya sampai bisa tertarik untuk mengembangkan aplikasi ini?

Fajar: Jadi awalnya tuh pas kuliah saya sering lihat video TW luar dan saya cukup terkesan karena disana sudah banyak menggunakan aplikasi yang bagus-bagus, dari situ banyak menginspirasi saya untuk bikin aplikasi ini. Pada akhir semester, saya dapat tugas dari mata kuliah AAC yang diajar Bu Yulidar untuk bikin pecs. Karena saya ga ada uang dan males bikin, saya tawarin lah ke Bu Yuli, gimana kalau saya bikin aplikasi saja? ternyata disetujui dan akhirnya saya bikin rancangan lalu mempresentasikannya. Walau pada akhirnya kartu pecs saya tetap ditagih juga, hahaha. Setelah saya kerja dan punya uang, baru kepikiran untuk ngelanjutin project yang sempat tertunda ini.

P: Bagaimana proses pembuatannya dan berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pembuatan Hallo Speech?

Fajar: Untuk pengerjaan aplikasi ini saya sepenuhnya bayar jasa freelancer IT untuk coding dan lain lain yang berkaitan dalam proses pembuatan. Kalau dari sayanya sendiri ngerjain desain, mekanisme, sama bahan-bahan seperti gambar dan kata. Gambarnya sendiri banyak diambil dari tugas kartu pecs saya yang dulu, jadi saya gak banyak nyari lagi. Untuk proses pembuatannya sekitar satu bulan, dari nol banget sampai ke revisi-revisinya.

P: Ada kesulitan apa aja selama proses pembuatan aplikasi berlangsung?

Fajar: Kesulitannya hanya di voice overnya, sempat bingung mau pakai google voice atau voice over orang asli. Karena kalau pakai voice over orang yang real memang lebih bagus, namun prosesnya sulit dan makan waktu lagi, jadi saya memutuskan untuk pakai google voice. Tujuan saya saat itu selesaikan dulu saja dan rilis secepatnya, dari situ saya mau lihat feedback pengguna, jika feedbacknya positif maka saya ada rencana untuk update voice-over dengan suara asli sehingga lebih baik lagi. Itu aja sih kendalanya.

P: Boleh dijelasin gak, untuk saat ini Hallo Speech ada fitur apa sajakah yang tersedia?

Fajar: Di aplikasi Hallo Speech ada fitur yang menyerupai kartu-kartu fonem dengan kategori kata seperti benda, anggota tubuh, kata kerja, preposisi dan masih banyak lagi. Saya juga memilih kosakata se-basic mungkin agar memudahkan dalan proses belajar. Kartu gambar ini dapat dipilih dan disusun dari satu hingga empat kata berurutan hingga dapat membentuk kalimat sederhana sehingga cocok untuk latihan mengenal kata, membuat kalimat maupun short span memory. Satu lagi, keunggulan di aplikasi ini adalah kita dapat membuat kartu kita sendiri jika tidak terdapat kata yang diinginkan dan dengan kuantitas yang tidak terbatas. Di aplikasi lain, biasanya fitur ini jumlahnya sangat terbatas. Caranya mudah, klik create card di samping kiri, lalu masukkan gambar/foto serta ketik kata, maka otomatis kata tersebut akan ditambahkan ke perbendaharaan kata di aplikasi.

P: Apa bentuk Hallo Speech saat ini sudah final? jika belum, kira kira kedepannya fitur apalagi yang akan hadir di dalam aplikasi ini?

Fajar: Belum, belum final. Tentu saja bakalan ada perbaikan dan update fitur menjadi lebih luas. Misalnya voice over akan dibuat versi laki-laki dan perempuan, dan penambahan kolom bentuk kata sesuai kebutuhan terapis. Maka dari itu, kritik dan saran teman teman sekalian akan sangat berpengaruh untuk perkembangan aplikasi ini ke depan.

P: Apakah hal hal yang anda ingin capai untuk komunitas Terapi Wicara dengan hadirnya Hallo Speech?

Fajar: Dalam pembuatan aplikasi ini saya gak hanya mengejar adsense, namun juga saya ingin menunjukkan kalau terapis wicara Indonesia tuh punya dan mampu buat aplikasinya sendiri, gak kalah dengan terapis wicara di luar Indonesia. Selain itu tentunya juga mempermudah teman-teman terapis dalam kegiatan belajar mengajar baik anak maupun dewasa.

P: Ada pesan gak untuk teman-teman TW lain yang mungkin berminat mengembangkan aplikasi serupa?

Fajar: Untuk teman-teman sesama terapis, saya berharap aplikasi ini dapat menjadi awal dari munculnya aplikasi-aplikasi lain buatan teman-teman terapis yang lebih mumpuni, sehingga komunitas terapis wicara indonesia tidak kalah saing dengan terapis lain di luar Indonesia.

Catatan: Untuk saat ini, Hallo Speech baru tersedia pada perangkat android dan belum dapat diunduh di perangkat ios.


Tgl Lahir : Jakarta, 31 Maret 1995
Aktivitas sekarang  : kerja di Lalita klinik,
Profesi lain : ga ada
Akademi Terapi Wicara angkatan 2018

Related Post